<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar SoloRaya</title>
	<atom:link href="http://kabarsoloraya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kabarsoloraya.com</link>
	<description>Media Online SoloRaya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Dec 2011 11:18:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sahita, Antara Tari dan Parodi</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/09/06/sahita-antara-tari-dan-parodi/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/09/06/sahita-antara-tari-dan-parodi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 12:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[SOSOK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1962</guid>
		<description><![CDATA[TIDAK banyak kelompok komedian perempuan dari dunia tari. Satu dari yang tidak banyak itu adalah Sahita, sebuah kelompok teater tari dari Solo, Jawa Tengah.  Hingga saat ini, agaknya Sahita satu-satunya kelompok  teater tari beranggota lima perempuan dengan dasar tari, teater dan kemampuan vokal yang memadai.  Kelompok ini mencoba mengembangkan bentuk teater tari dengan banyolan-banyolan segar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TIDAK banyak kelompok komedian perempuan dari dunia tari. Satu dari yang tidak banyak itu adalah Sahita, sebuah kelompok teater tari dari Solo, Jawa Tengah.  Hingga saat ini, agaknya Sahita satu-satunya kelompok  teater tari beranggota lima perempuan dengan dasar tari, teater dan kemampuan vokal yang memadai.  Kelompok ini mencoba mengembangkan bentuk teater tari dengan banyolan-banyolan segar dan cerdas, ditambah penguasaan tari (Jawa) yang mumpuni dari para anggotanya.<span id="more-1962"></span></p>
<p><em>Foto-foto: Agus Sektiawan</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1965" title="sahita" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/09/sahita1-300x123.jpg" alt="sahita" width="381" height="206" /></p>
<p>Dari sisi cerita, mereka mampu mengangkat  realita kehidupan yang biasa-biasa saja sebagai peristiwa yang universal dan aktual. Dari persoalan sehari-hari ke gugatan atau perenungan soal-soal kritik nilai-nilai dan falsafah hidup, yang dikemas dengan jenaka, parodi, urakan, serta sesekali mentertawakan diri sendiri. Mereka kerap mempermainkan unsur  <em>parikan </em>(semacam pantun Jawa, biasa digunakan dalam teater tradisional ludruk). Guyonan yang ceplas-ceplos dan sesekali <em>saru </em>(pornografi).</p>
<p>Selain gerak tari yang luwes, satu yang khas dari Sahita adalah  musik  keluar dari mulut pemainnya. Mereka menirukan suara kendang, bonang,  saron dan gong. Di panggung, Sahita biasa menyentil wajah negeri ini, mulai perkara poligami, beras impor, korupsi, bantuan langsung tunai, sampai makelar kasus.</p>
<p>Coba simak celotehan mereka tentang impor beras dan korupsi;  “Katanya negeri kita ini negeri agraris, tapi rakyat mendapat beras dengan mengemis. Katanya negeri kita subur makmur, tapi petani tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi kok makin banyak orang serakah.”</p>
<p>Sahita didirikan oleh lima perempuan, yaitu Wahyu Widayati (Inonk), Sri Setyoasih (Tingtong), Sri Lestari (Cempluk), Suharti dan Atik Kenconosari. Kecuali Sri Lestari yang jebolan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo,  keempat anggota Sahita lainnya merupakan alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) &#8211;sekarang Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta.</p>
<p>Seperti kata Inonk, Sahita mungkin sebagai kelompok yang memadukan antara tari dan teater. Namun sebagai pertunjukan teater, tidak ada aktor tunggal di sana. Semuanya adalah aktor sekaligus penari. Dalam lakon “Srimpi Srimpet” yang pernah dipentaskan misalnya, semua pemainnya berperan sebagai penari, tidak ada aktor yang menjadi rujukan, tidak ada individu yang dominan. Sebaliknya para pemain  dituntut saling mengisi.</p>
<p>Berdiri sejak 9 tahun lalu, Sahita terhitung cukup produktif. Belasan karya telah mereka pentaskan di berbagai kota, termasuk Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Selain “Srimpi Srimpret” , beberapa karya Sahita antara lain, <em>“</em><em>Gathik Glinding”</em><em>, “</em><em>Srimpi Ketawang Lima Ganep”</em><em>, “</em><em>Iber-iber Tledhek Barangan”</em><em>, “</em><em>Pangkur Brujul”</em><em>, “</em><em>Seba Sawaka”</em><em>, “</em><em>Alas Banon”</em><em>,</em> dan <em>“</em><em>Seratan”</em><em>.</em></p>
<p><em><img class="alignright size-medium wp-image-1966" title="Untitled-1" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/09/Untitled-1-300x200.jpg" alt="Untitled-1" width="337" height="224" /><br />
</em></p>
<p>“Sahita bisa jalan seperti ini, karena kita sudah akrab. Lha kita sebelumnya sudah bertahun-tahun di Gapit (Teater). Kita bertemu di Sahita karena Gapit bubar. Jadi antara saya, Tintong, Cempluk, dan Atik itu sudah sama-sama tahu harus bagaimana kalau di panggung,” ujar Inonk.</p>
<p>“Srimpi Srimpet” adalah pentas pertama Sahita, yang merupakan respon dari <em>Serat Kalatida</em> karya Ronggowarsito. Kita tahu, Srimpi adalah salah satu tarian keraton yang dipercaya sacral dengan pancaran aura magis. Tarian ini dibawakan oleh empat putri yang masih perawan. Syair tembang yang dilantunkan penari seiring tarian menyuarakan ajaran moral. Gerakan  empat penari pun sangat lembut, mencerminkan kehalusan budi. Maka, para penari pun tampil dengan raga terjaga, rambut tertata, serta busana yang sempurna.</p>
<p>Namun di tangan Sahita, Srimpi yang sakral itu ditafsir ulang menjadi “Srimpi Srimpet”. Itulah pentas parodi yang meletakkan Srimpi dalam konteks persoalan sehari-hari masa kini. Formasi empat penari tetap dipertahankan sesuai dengan Srimpi &#8220;asli.&#8221;  Namun, mereka kemudian menyeret Srimpi keluar dari pakem yang selama ini melekat.</p>
<p>Empat penari memakai kostum jarik atau kain dan kebaya dengan warna yang telah memudar. Rambut mereka beruban dan awut-awutan layaknya perempuan usia 60-an tahun. Dengan gaya “mbok-mbok” seperti itu, maka gerakan tari yang mereka pun  terkesan urakan dibandingkan Srimpi asli. Betapa tidak, empat penari Sahita itu tak segan menungging-nungging, menggoyang pinggul, atau menggelosor di lantai.</p>
<p>Tak ada iringan gamelan, kecuali bunyi-bunyian dari mulut yang kadang menirukan suara kendang atau saron. Kata-kata halus diselingi suara seperti gonggongan binatang dari para penari. Suasana <em>wingit </em>(angker)<em> </em>yang terbangun di awal tari seperti dijungkirbalikkan menjadi guyonan.</p>
<p>“Kami memang sedang menggugat mitos dan eksklusivitas kesenian. Srimpi itu sebenarnya kan bisa dibawakan oleh siapa saja. Tapi yang merasa diri adiluhung, membatasi penari Srimpi harus muda dan cantik-cantik. Itu kan namanya diskriminasi,&#8221; kata Inonk saat ditemui di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo.</p>
<p>Inonk menambahkan “Srimpi Srimpet” sempat dikritik pihak keratin, karena dianggap melecehkan budaya adiluhung. Tapi Sahita jalan terus. Bahkan khusus untuk “Srimpi Srimpet”, Sahita sudah mementaskan hingga sebanyak 45 kali, jauh lebih banyak dibanding lakon-lakon lain yang hanya dipentaskan ulang sekitar 5-7 kali.</p>
<p>Sebagai sebuah kelompok teater tari, Sahita terhitung praktis dalam pementasan. Mereka tidak memerlukan properti yang rumit, kostum dan <em>make up</em> pun sebagaimana sehari-hari mereka mengenakan pakaian.  Mereka bahkan tidak hanya pentas di panggung atau gedung megah, tapi juga bisa pentas di bawah pohon, pelataran kampus, bahkan di balai desa. Boleh jadi, konsep pementasan Sahita menggabungkan gaya teater modern dan tradisional -menyajikan dialog-dialog penuh penuh guyonan segar, tarian Jawa yang parodial.</p>
<p>Sahita tentu saja bukan grup lawak. Namun jika mereka lucu, silakan tertawa. Penonton juga tak perlu mikir yang lain, apalagi sampai harus menafsirkan gerak tubuh dan koreografi yang <em>mbulet</em> (rumit). Dalam  Sahita, semuanya terlihat sederhana san segar. Bisa jadi karena itulah pentas-pentas Sahita tak pernah sepi dari penonton.(Ganug Nugroho Adi)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1962&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/09/06/sahita-antara-tari-dan-parodi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Selikuran&#8221;, Menanti Malam Seribu Bulan</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/31/selikuran-menanti-malam-seribu-bulan/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/31/selikuran-menanti-malam-seribu-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 07:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMENTASI SOLORAYA]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1936</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Agus Sektiawan (atas) dan Sri Nugroho (bawah) SULTAN Agung Hanyokrokusumo banyak memberi warna Islam di Mataram (1613-1645). Raja besar itu berhasil memadukan dengan jarmonis tradisi-budaya Islam yang diwariskan oleh para wali dengan tradisi Hindu-kejawen yang telah lama tumbuh dan hidup dalam masyarakat Jawa. Salah satunya adalah tradisi menyambut malam Lailatul Qadar &#8211;masyarakat Jawa menyebutnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1954" title="m27" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/m271-193x300.jpg" alt="m27" width="237" height="368" /><img class="alignright size-medium wp-image-1955" title="selikuran1" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/selikuran11-300x199.jpg" alt="selikuran1" width="371" height="240" /></p>
<p><em> Foto: Agus Sektiawan (atas) dan Sri Nugroho (bawah)</em></p>
<p><strong>SULTAN</strong> Agung Hanyokrokusumo banyak memberi warna Islam di Mataram (1613-1645). Raja besar itu berhasil memadukan dengan jarmonis tradisi-budaya Islam yang diwariskan oleh para wali dengan tradisi Hindu-kejawen yang telah lama tumbuh dan hidup dalam masyarakat Jawa. Salah satunya adalah tradisi menyambut malam Lailatul Qadar &#8211;masyarakat Jawa menyebutnya malam <em>selikuran</em>, yaitu ritual pada malam-malam tanggal  ganjil pada sepertiga terakhir bulan Ramadan. Tak hanya Sultan Agung, para penerusnya pun tetap melestarikan tradisi malam <em>selikuran</em> bahkan ketika kerajaan terpecah menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Itlah sebabnya di masyarakat pedesaan wilayah Yogyakarta dan Surakarta, tradisi malam selikuran ini tetap terrpelihara hingga kini.</p>
<p>Lewat tembang Dandanggula” dalam ”Serat Wulengreh”, Paku Buwono (PB) IV sangat mengagungkan peristiwa Lailatul Qadar. Lebih dari 200 tahun silam, Raja Surakarta itu  menulis;    <em>Jroning Quran nggoning rasa jati/ Nanging pilih wong kang uninga/Anjaba lawan tuduhe/Nora kena binawar/Ing satemah nora pinanggih/Mundhak katalanjukan/Temah sasar susur/Yen sirdayun waskitha/Kasampurnaning badanira puniki/Sira anggegurua.</em></p>
<p>Terjemahan bebasnya kira-kira adalah; Alquran adalah tempat rasa sejati. Namun tidak setiap orang bisa mengetahuinya, kecuali mereka yang tekun beribadah dan patuh kepada Allah SWT. Mereka yang ingkar tidak akan pernah menemukan cahaya seribu bulan, namun akan tersesat. Dengan waspada, kalian akan mendapatkan kesempurnaan, dan karena itu kalian harus berguru.</p>
<p>“Serat Wulangreh” sendiri merupakan ajaran yang menunjukkan kedalaman Alquran. Pada dua baris pertama tembang “Dandanggula” itu, misalnya, Sang Raja menuturkan tentang pentingnya penghayatan Alquran dan orang-orang terpilih yang memahaminya. Ungkapan itulah yang mengilhami masyarakat Jawa dalam menghayati Alquran, serta keyakinan adanya misteri “cahaya seribu bulan” yang turun pada malam Lailatul Qadar.</p>
<p>Tradisi malam <em>selikuran</em> di Keraton Kasunanan Surakarta, konon berpegang pada  “Serat Ambya”, di mana pada setiap tanggal ganjil mulai tanggal 21 Ramadan, Nabi Muhammad SAW turun dari Jabal Nur. Di Gunung Nur itulah Rasulullah menerima wahyu ayat-ayat Alquran dari Allah SWT.</p>
<p><em>Foto: Sri Nugroho</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1947" title="selikuran" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/selikuran-300x202.jpg" alt="selikuran" width="343" height="230" />Malam <em>selikuran</em> atau puasa malam ke-21 tampaknya lebih istimewa di bandingkan malam-malam ganjil lain. Pada malam itukah    Keraton Kasunanan Surakarta menggelar ritual  “Hajad Dalem Selikuran” atau “Ting Hik”, sebuah ritual untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.</p>
<p>Ritual ini berupa arak-arakan arak-arakan para ulama keraton, sentana dalem maupun abdi dalem Keraton Surakarta yang membawa aneka sesaji dan lampu <em>ting </em>atau lampu teplok, dari halaman keraton menuju Taman Sriwedari,  sejauh sekitar 3 kilometer.  Di sepanjang jalan, para ulama melantunkan salawat dengan iringan rebana. Di barisan lain, para abdi dalem Keraton Surakarta yang membawa ting, meneriakkan ungkapan simbolik <em>tong-tong-hik</em> yang bermakna seruan kebaikan.</p>
<p><em> Foto: Agus Sektiawan<br />
</em></p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1948" title="m299" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/m299-300x200.jpg" alt="m299" width="372" height="248" /></p>
<p>Beberapa tahun lalu, prosesi ritual malam selikuran selalu digelar di kupel Segaran Sriwedari yang letaknya berada di tanah berbentuk bukit kecil di  di tengah kolam. Namun karena air kolam tak lagi jernih dan Taman Sriwedari tak lagi terawat, prosesi pindah ke pendapa. Di tempat itulah para ulama utusan Paku Buwono mengadakan kenduri. Para abdi dalem dan ulama menggelar doa bagi keselamatan bersama. Di sekitar pendapa itu pula ratusan warga menunggu.</p>
<p>“Ritual ini merupakan tradisi keraton untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Seribu lampu <em>ting </em> yang dikirab ini merupakan simbol cahaya 1000 bulan yang selalu datang setiap tanggal ganjil bulan ramadhan puasa, khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadan,” kata KRA Winarno Kusumo, seorang kerabat keraton.</p>
<p>Lampu <em>ting </em>juga menjadi simbol ketika Nabi Muhammad menerima  wahyu berupa Alqur&#8217;an di Gunung Nur, sehingga pada malam itu menjadi benar-benar terang seperti siang hari. Sedangkan arak-arakan dari Keraton Surakarta menuju Sriwedari merupakan gambaran tentang para sahabat nabi saat membawa obor untuk menyambut turunnya Nabi Muhammad dari Gunung Nur sesaat setelah menerima wahyu.</p>
<p>Ritual “Ting Hik” ini diakhiri dengan ratusan warga yang berebut abeka sesaji berupa nasi tumpeng berikut lauknya.  Mereka kemudian  menyantap sesaji bersama-sama. Kalangan keraton dan seluruh masyarakat Jawa mengharapkan limpahan berkah dan anugrah, seperti yang telah diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw pada malam Lailatul Qadar.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1951" title="selikuran2" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/selikuran2-300x190.jpg" alt="selikuran2" width="407" height="275" /><img class="alignleft size-medium wp-image-1952" title="m25" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/m25-300x200.jpg" alt="m25" width="428" height="234" /></p>
<p>“Kita meyakini berkah  itu, tapi  ini rahasia  Allah.&#8221;</p>
<p><em>Foto: Agus Sektiawan (bawah) dan Sri Nugroho (atas)</em></p>
<p>Di luar tembok keraton, masyarakat pedesaan di kota-kota sekitar Solo masih kukuh melestarikan tradisi menyambut Lalilatul Qadar ini, seperti Wonogiri, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar dan Sragen. Di masyarakat pedesaan, tradisi malam <em>selikuran</em> ini biasa disebut dengan Tradisi ini disebut <em>rasulan</em>. Setiap rumah di wilayah pedesaan biasanya membuat kenduri  berupa nasi urap dan dengan lauk sederhana pada setiap malam tanggal ganjil, mulai tanggal 21, 23, 25, 27, dan berakhir tanggal 29 Ramadan. Masing-masing keluarga kemudian membawa kenduri tersebut ke balai desa atau balai kampong dan meletakkannya secara berjajar di atas tikar.</p>
<p>Tokoh agama setempat akan memimpin doa keselamatan dengan harapan cahaya Lailatul Qadar akan memberkahi seluruh masyarakat desa. Begitu doa selesai, kenduri yang berjajar-jajar kemudian diputar layaknya kado silang, sehingga seseorang tidak akan membawa pulang kembali kenduri yang semula dibawa dari rumah.</p>
<p>Tradisi <em>rasulan</em> biasanya dilaksanakan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Selepas pembagian kenduri, warga tidak langsung pulang. Mereka akan melakukan tirakatan sampai lewat tengah malam, menanti turunnya  malam Lailatul Qadar. Harapan yang besar kepada berkah Lalilatul Qadar yang diturunkan Allah SWT secara misterius itu tampaknya menjadi sebuah kekuatan mengapa  tradisi malam <em>selikuran</em> tetap lestari. <strong>(Ganug Nugroho Adi)</strong></p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1936&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/31/selikuran-menanti-malam-seribu-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khataman Alquran, Tradisi Suci di Bulan Suci</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/24/khataman-tradisi-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/24/khataman-tradisi-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 13:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1921</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Sri Nugroho SELAIN shalat malam, salah satu tradisi selama bulan Ramadan adalah tadarus atau membaca kitab suci Alquran. Bukan sekadar  membaca satu atau dua surat, tetapi sekaligus menamatkan Alquran yang terdiri dari dari 30 juz, dari ayat pertama hingga tamat (khatam).  Juz adalah bagian atau susunan dalam Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-1926" title="tadarusan lagi" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/tadarusan-lagi2-300x201.jpg" alt="tadarusan lagi" width="501" height="335" /></p>
<p><em>Foto: Sri Nugroho</em></p>
<p>SELAIN shalat malam, salah satu tradisi selama bulan Ramadan adalah tadarus atau membaca kitab suci Alquran. Bukan sekadar  membaca satu atau dua surat, tetapi sekaligus menamatkan Alquran yang terdiri dari dari 30 juz, dari ayat pertama hingga tamat (khatam).  Juz adalah bagian atau susunan dalam Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat. Kegiatan membaca Alquran hingga tamat inilah yang dikenal dengan nama khataman. Mereka yang baru bisa membaca Alquran, biasanya akan khatam Alquran pada malam terakhir puasa. Namun bagi para santri yang  sudah terbiasa membaca Alquran, sepanjang bulan Ramadan bisa membaca tamat sebanyak dua hingga tiga kali. Pada malam-malam selama Ramadan, setiap masjid, musola, pondok-pondok pesantren, serta kelompok-kelompok pengajian akan melaksanakan tradisi membaca Alquran ini dengan berbagai cara. Ada yang memulai khataman sehabis shalat tarawih selama dua sampai tiga jam, ada pula yang melaksanakan setiap selesai waktu shalat wajib. Dengan cara yang berbeda-beda seperti ini, maka  waktu khatam atau tamatnya pun beragam. Ada yang tujuh hari sudah khatam, dua minggu,  atau sebulan penuh selama bulan puasa.</p>
<p>“Kalau di pondok ini, para santri kami bnebaskan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tapi sebelum tanggal 17 Ramadan harus sudah khatam, karena pada malam tanggal 17 Ramadhan itu kami secara bersama-sama membaca Alquran, sekaligus  memperingati Nuzulul Quran,” kata Dian Nafi, pengasuh Ponpes Al Muayat, Windan, Makamhaji, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah.</p>
<p>Dian menambahkan tradisi khataman Alquran sudah lekat di hati umat Islam, sehingga semua masjid dan mushala di manapun melaksanakan acara khataman  meski bentuk acaranya berbeda. Di Ponpes Al Muayat sendiri, lanjut dia, tradisi khataman Alquran sudah dimulai sejak ponpes didirikan puluhan tahun silam. Pondok pesantren tradisional Condrodimuko di Desa Mojolaban, Sukoharjo, pun mempunyai cara unik dalam melakukan tradisi khataman Alquran. Dengan  penerangan lampu teplok, setiap malam sekitar 200 santri pondok melakukan tadarus. Di bawah penerangan lampu yang sederhana, para santri terlihat khusuk dan kidmat melantunkan ayat-ayat suci Alquran.</p>
<p>“Setiap malam ponpes kami melakukan tadarus bersama, sehingga bisa saling koreksi. Dalam seminggu para santri sudah harus khatam, kemudian minggu berikutnya dilanjutkan putaran kedua hingga bulan puasa selesai. Tujuan tadarus ini tidak lain adalah mencari ridhlo Allah,” kata Ustad Agung Syuhada, pimpinan ponpes.</p>
<p>Di Ponpes Condrodimuko, kegiatan khataman dimulai selepas shalat tarawih hingga tengah malam. Setelah istirahat beberapa jam, para santri akan melanjutkan membaca Alquran seusai sholat subuh sekitar hingga sekitar pukul 06.00 pagi. Mereka akan kembali membaca Alquran setiap menjelang waktu shalat lima waktu.</p>
<p>Tidak hanya di ponpes, masjid-masjid tua di Solo, Jawa Tengah,  juga menggelar tradisi khataman Alquran sepanjang Ramadan. Antara lain di Masjid Agung Kasunanan Surakarta di Alun-alun Utara, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Laweyan, dan</p>
<p>Pada setiap malam sepanjang Ramadan, mulai malam pertama hingga terakhir, masjid-masjid tua ini selalu dipadati jamaah. Acara khataman biasanya dimulai selepas shalat tarawih. Namun banyak dari mereka yang datang sejak sebelum waktu berbuka puasa. Tradisi khataman biasanya memang dimulai dengan berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan shalat Magrib, Isya, tarawih hingga akhirnya kahataman.</p>
<p>Di Masjid Laweyan yang yang konon merupakan masjid peninggalan Kerajaan Pajang,  para jamaah duduk berkelompok terdiri dari empat atau lima orang, kemudian dipimpin pengurus takmir masjid mereka mulai membaca Alquran secara bersama-sama. Di banding masjid-masjid tua lain di Solo, jumlah peserta khataman di Masjid Laweyan memang lebih sedikit, karena  bangunan masjid masjid tergolong kecil. Khataman di masjid ini pun lebih  dikhususkan untuk santri baru atau mereka yang sama sekali belum pernah tamat membaca Alquran. Dalam sebulan penuh selama Ramadhan itulah para santri setiap malam tadarus hingga tamat.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1928" title="11slikur22" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/11slikur22-300x193.jpg" alt="11slikur22" width="414" height="225" />“Setiap bulan puasa kami bisa mengantarkan 20 sampai 30 santri khatam Alquran. Memang tidak banyak, tapi itu selalu rutin kami lakukan dalam 10 tahun terakhir ini,” ujar Muhammad Iqbal, seorang pengurus takmir Masjid Laweyan.</p>
<p>Keramaian masjid-masjid oleh khataman semakin terlihat ketika puasa sudah melewati hari kesepuluh, terutama pada malam-malam ganjil. Pada malam ke-17, Masjid Agung Kasunanan Surakarta dan Masjid Al Wustho Mangkunegaran menggelar acara khataman secara besar-besaran.</p>
<p>“Membaca Alquran itu ibadah. Pahalanya akan berlipat-lipat kalau  kita membacanya pada bulan puasa, terutama pada malam-malam ganjil,” kata Ketua Takmir Masjid Al Wustho Muhammad Toha Mustafa.</p>
<p>Kenapa malam ganjil? Karena pada malam-malam ganjillah Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam masa sepanjang 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Maka, lanjut Mohammad Toha, umat Islam yang melakukan ibadah dengan khusuk pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan, pahalanya melebihi 1000 bulan.</p>
<p>Di Masjid Agung Keraton Surakarta, keramaian mulai terlihat selepas puasa hari ke-10. Pada malam-malam ganjil di sepertiga bulan Ramadan, jamaah berdatangan memadati masjid. Adakalanya jamaah sampai meluber hingga ke bagian serambi.</p>
<p>Pada malam <em>selikuran</em> atau puasa malam ke-21 tampaknya lebih istimewa di bandingkan malam-malam ganjil lain. Sebab pada malam itu  Masjid Agung tidak hanya menyelenggarakan khataman semalam suntuk. Bersama Keraton Kasunanan Surakarta, masjid tua peninggalan Paku Buwono (PB) X tersebut menggelar ritual  “Ting Hik”, yaitu sebuah ritual untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.</p>
<p>Ritual ini berupa arak-arakan lampu <em>ting </em>atau lampu teplok, dari halaman keraton menuju Taman Sriwedari. Selepas shalat tarawih, ratusan lampu <em>ting</em> dibawa para keluarga keraton dan  abdi dalem dengan kawalan prajurit keraton.  Sambil mengusung sesaji, mereka berjalan kaki sekitar 2 kilometer.  Di Pendopo Taman Sri Wedari, peserta kirab berkumpul bersama ratusan warga yang sudah menunggunya. Selanjutnya mereka melakukan doa bersama sekaligus memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua kesalahan dan dosa.</p>
<p><em>foto: Agus Sektiawan</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1923" title="MENGAJI" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/mengaji180810-2-300x180.jpg" alt="MENGAJI" width="356" height="220" />“Ritual ini merupakan tradisi keraton untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Ratusan lampu <em>ting </em> yang dikirab ini merupakan simbol cahaya 1000 bulan yang selalu datang setiap tanggal ganjil bulan ramadhan puasa, khususnya 10 hari terakhir bulan ramadhan,” kata KRTA Winarno Kusumo, seorang kerabat keraton.</p>
<p>Ritual “Ting Hik” ini diakhiri dengan ratusan warga yang berebut nasi tumpeng berikut lauknya.  Namun selepas ritual bukan berarti  acara khataman berhenti. Sebab sekembalinya dari Taman Sriwedari, mereka akan menuju Masjid Agung dan memulai khataman hingga waktu shalat Subuh tiba yang tentu saja diselingi rehat untuk sahur.</p>
<p>“Bulan puasa harus diisi dengan amalan-amalan baik agar ibadah puasa kita tidak percuma. Sebab hanya mereka yang melakukan tarawih, membaca Aquran, dan amalan-amalan baik lainnya yang akan mendapatkan Lailatul Qadar,” jelas Dian Nafi. (<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1921&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/24/khataman-tradisi-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keris Surakarta,  Jejak Brojoguno hingga Gelombang Cinta</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/keris-surakarta-jejak-brojoguno-hingga-gelombang-cinta/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/keris-surakarta-jejak-brojoguno-hingga-gelombang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 14:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1912</guid>
		<description><![CDATA[BARANGKALI periode yang dianggap paling mewakili kejayaan pembuatan keris di Jawa adalah semasa Kerajaan Mataram Islam. Ketika itu, perkembangan keris berlangsung dengan pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas, teruama pada era kekuasaan Sultan Agung. Pada masa pemerintahan raja besar Mataram itu muncul dapur-dapur baru, salah satunya yang terkenal adalah dapur Nagasasra. Pada masa Sultan Agung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1913" title="images" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/images-300x225.jpg" alt="images" width="440" height="288" />BARANGKALI periode yang dianggap paling mewakili kejayaan pembuatan keris di Jawa adalah semasa Kerajaan Mataram Islam. Ketika itu, perkembangan keris berlangsung dengan pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas, teruama pada era kekuasaan Sultan Agung. Pada masa pemerintahan raja besar Mataram itu muncul dapur-dapur baru, salah satunya yang terkenal adalah dapur Nagasasra. Pada masa Sultan Agung pula  dikenal budaya <em>kinatah</em> pada keris. Tradisi pembuatan keris terus berkembang pada era <em>nom-noman</em>, yaitu masa setelah pecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta lewat perjanjian Giyanti  tahun 1755. Menurut Ronggojati Sugiyatno, seorang empu sekaligus pelaku budaya di Solo, mulai era Paku Buwono III sudah terjadi kemajuan yang mencolok dalam penggarapan dan pemilihan bahan. “Perlu dicatat, meski sejak PB III terjadi perkembangan dalam tradisi pembuatan keris, namun semua keris yang dihasilkan itu <em>mutrani</em> dari dapur yang ada sebelumnya. Jadi sejak PB III tidak ada lagi penciptaan dapur baru.”</p>
<p>Meski demikian, pemilik sejumlah keris klasik tangguh Surakarta itu mengakui terjadinya inovasi dan eksplorasi estetik baru, yang antara lain menghasilkan sejumlah <em>dapur </em>dan <em>ricikan </em>(<em>detail</em>) yang semakin tegas, dalam, rapi dan beragam, seperti <em>32 Sari 27 </em>pengujian pembuatan dan model pamor, gaya baru dengan masuknya ukuran sedikit lebih besar, serta nuansa <em>necis </em>dan gagah. Pemilihan kualitas bahan pamor dan baja juga semakin terjaga.</p>
<p>“Salah satu bahan yang bagus ya watu lintang (meteor) yang pernah jatuh di sekitar Prambanan itu,” ujar Sugiyatno.</p>
<p>Sukamdi mengungkapkan bahwa keris Tangguh Surakarta merupakan penyempurnaan dari masa-masa sebelumnya. Dengan kata lain, dia menyebut keris Surakarta merupakan puncak garapan keris. Dalam periode  yang dianggap sebagai puncak keemasan tradisi pembuatan keris itulah, keris sebenarnya  mulai beralih fungsi, yaitu dari senjata perang menjadi pelengkap budaya.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1914" title="brojoguno2" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/brojoguno2-212x300.jpg" alt="brojoguno2" width="293" height="370" /></p>
<p>Tiga pengrajin keris dari Solo, Subandi, Sukandi, dan Ronggojati Sugiyatno menyebut cirri paling menonjol dari keris Surakarta adalah “da” (ricikan bagian ganja) yang agak <em>munuk</em> (dari kata punuk sapi).</p>
<p>“Posisi ‘da’-nya itu sangat <em>wangun </em>(elok) dan pas. Kemudian <em>puyuhan </em>pada keris Surakarta lebih kedalam. Satu kekhasan lain, keris Surakarta mempunyai pamor yang lebih inovatif dan bahan-bahannya lebih berkualitas,” jelas Sugiyatno.</p>
<p>Mengenai bentuk fisik secara utuh, ketiga pengrajin keris asal Solo sepakat umumnya ukuran keris Surakarta lebih besar dibanding keris Yogyakarta. Untuk bagian <em>wilah</em> atau bilah, menurut Subandi, keris Surakarta mempunyai <em>bangkekan </em>(pinggang).</p>
<p>“Untuk luk lurus gaya Solo, bagian tengah <em>wilah</em> melebar, kemudian meruncing hingga ujung. Keris tangguh lain tidak seperti itu,” ujar Subandi.</p>
<p>Dia menyebut kekhasan lain dari keris Surakarta, antara lain pada bagian <em>selut </em>yang <em>njeruk keprok</em> seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Fungsi <em>selut</em> terbatas sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan.  Warangka keris Surakarta juga berbeda dengan tangguh lain. Warangka Surakarta biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa. Warangka Surakarta ukurannya lebih besar dibanding Warangka Yogyakarta, meski bentuknya sangat mirip.</p>
<p>“Ladrang Solo bagian <em>angkup-</em>nya lebih melengkung ke dalam atau menjorok.”</p>
<p>Dalam satu kalimatnya yang agak panjang, Ronggojati Sugiyatno menyebut keris Tangguh Surakarta itu adalah bilah seperti daun singkong, besi halus, pamor menyebar, puyuan meruncing, <em>gulu meled</em> pada ganja pendek, <em>odo-odo</em> dan bagian lainnya tampak manis dan luwes.</p>
<p><strong>Empu Keris Surakarta</strong></p>
<p>Dari catatan yang ada, Keris Tangguh Surakarta meliputi periode tahun 1749-sekarang, yaitu pada era Paku Buwono III (1749-1788), Paku Buwono IV (1788-1820), Paku Buwono V (1820-1823), Paku Buwono VI (1823-1830), Paku Buwono VII (1830-1858), Paku Buwono VIII (1858-1861), Paku Buwono IX (1861-1893), Paku Buwono X (1893-1939), Paku Buwono XI (1839-1944), Paku Buwono XII (1944-sekarang).</p>
<p>Pada masa Kasunanan Surakarta, beberapa empu yang sangat terkenal antara lain, Empu Brojoguno I-II, Empu Brojokaryo, Empu Brojosentika,  Empu Empu Tirtodongso, Empu Japan, dan Empu Ki Suratman. Empu Brojokaryo dan Empu Brojosentiko merupakan cucu dari Empu Brojoguno II dari dua ibu yang berbeda.     “Empu-empu Brojo selalu menandai keris buatannya dengan bagian tengah lebar seperti daun singkong,ynag kelak merupakan cirri khas keris Surakarta,” jelas Ronggojati Sugiyatno. Dia <img class="alignleft size-medium wp-image-1917" title="images1111" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/images1111-128x300.jpg" alt="images1111" width="228" height="534" /> menambahkan, pada periode PB X sebenarnya banyak melahirkan empu-empu hebat. Hanya saja, sebagian besar mereka adalah empu kajoran,yaitu empu yang dating dari luar tembok keraton. Beberapa di antaranya yang cukup terkemuka adalah Mpu Singosijoyo, Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I, Mpu Wirosukadgo, Mpu Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III. Kini, setelah pasca kemerdekaan, tradisi pembuatan keris di wilayah Surakarta atau Solo tidak pernah berhenti. Namun mereka mengukuhkan diri sebagai pengrajin keris dan menolak disebut sebagai empu. “Empu itu ditunjuk oleh raja dan bekerja untuk kerajaan. Saya hanya pembuat atau pengrajin keris, bukan empu,” ujar Sukamdi di rumahnya di kawasan Banyu Agung, Solo. Sukamdi memandang lebih realistis bahwa menjadi pengrajin keris merupakan bentuk usaha yang bisa emberi keuntungan mencukupi untuk menghidupi keluarga. Sebagai pengrajin keris maka titik beratnya adalah karya seni yang bisa dipasarkan. “Meski demikian saya tetap berpegang pada pakem. Sebab keris baik klasik maupun bukan, akan menjadi karya seni yang indah jika sesuai dengan pakem yang ada,” kata Sukamdi yang pernah membuat keris dapur Gelombang Cinta itu. Hal senada juga disampaikan oleh Subandi. Dalam sebulan, rata-rata dia bias menyelesaikan dua bilah keris. Namun jika keris pesanan, dia membutuhkan waktu lebih lama lagi sesuai dengan permintaan si pemesan. Keris buatannya berharga mulai Rp 7.500.000 hingga Rp 10 juta. Para pengrajin keris biasanya mengkombinasikan kekhasan daerahnya sebagai penanda khas daerah. Subandi misalnya, bisa menandai keris-keris ciptaannya dengan pesi berbentuk paku sebagai penanda karya empu kamardikan di tlatah Paku Buwanan, Solo. Ada juga pengrajin yang menggunakan penanda khas lain seperti pemasangan inisial nama sang pembuat keris. Inisial tersebut bias dalam bentuk tatahan emas atau hanya ukiran relief biasa dengan huruf Jawa atau abjad seperti yang ada pada keris karya M. Ng. Suyanto Wiryocurigo, Solo, yang menjadi koleksi Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Marc Trenteseau. Keris tersebut berhias <em>sinarasah mas</em> dengan inisial Marc dalam dua bentuk huruf jawa Mo – To dan abjad M–T. Beberapa pengrajin keris di Solo lainnya yang mempunyai nama cukup terpandang, antara lain M.Ng.H. Pauzan Pusposukadgo dan Hajar Satoto. Pauzan selain membuat keris juga membuat tombak dan tosan aji lainnya. Pada dekade tahun 1980-an, Pauzan juga menjadi dosen luar biasa dalam bidang pembuatan keris di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1915" title="images3" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/images3-300x225.jpg" alt="images3" width="300" height="225" /></p>
<p>Pauzan lahir di Desa Grinting, Boyolali, Jawa Tengah, tahun 1941. Minatnya terhadap dunia perkerisan mulai muncul sekitar tahun 1971. Ia menjadi anggota Boworoso Tosan Aji Surakarta, dan banyak mendapat bimbingan dari KRT Hardjonagoro (Alm), seorang budayawan kolektor keris di Solo. Tahun 1982 ia mulai belajar membuat keris sendiri, dengan membuat besalen di halaman rumahnya. Sekitar tahun 1984 Pauzan membuat pamor kreasi baru berdasarkan rekayasa Dietrich Dresser, yaitu pamor Poleng Wengkon. Pauzan menerapkannya pada sebuah keris berdapur Gumbeng.  Jenderal Soerono (Alm) memberi nama keris itu Kyai Surengkarya, yang artinya pekerja keras atau pekerja tekun.</p>
<p>Namakedua yang tak kalah hebat adalah Hajar Satoto, yang merupakan seniman serba bisa di Solo. Ia mulai menekui tosan aji  tahun 1982, dan ingin   menampilkan tosan aji semata-mata sebagai seni profan, sejajar dengan seni patung, ukir, sungging, lukis dan lainnya.</p>
<p>Hajar Satoto “meramalkan” bahwa di masa depan kepercayaan pada “isi” keris akan menyusut sesuai dengan kemajuan masyarakat modern yang serba teknologi tinggi. Namun, lanjut dia, karya seni profan tosan aji tak boleh ikut hilang dengan perubahan.</p>
<p>Sepanjang karirnya di dunia perkerisan, Hajar Satoto yang juga seniman musik tradisional itu, berhasil mengembangkan teknologi membuat pamor keris pada pembuatan gamelan, yaitu gamelan berpamor pada bilah-bilahnya yang ternyata menghasilkan suara lebih bagus dan lebih awet, serta tidak perlu sering di-<em>stem</em> (diselaraskan) nadanya.</p>
<p>Selain beberapa nama yang telah disebutkan, selama kurun waktu tahun 1980-an hingga tahun 990-an, masih ada lagi sejumlah nama lain yang juga membuat keris. Namun  orang-orang tersebut tidak diketahui sebagai individu. (<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<p><em>Foto-foto: dari berbagai sumber</em></p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1912&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/keris-surakarta-jejak-brojoguno-hingga-gelombang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Bubur Samin di Kampung Jayengan</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/menikmati-bubur-samin-di-kampung-jayengan/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/menikmati-bubur-samin-di-kampung-jayengan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 06:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1905</guid>
		<description><![CDATA[foto-foto: Agus Sektiawan SETIAP daerah selalu memiliki menu khas untuk berbuka puasa. Khas, karena menu-menu tersebut biasanya memang hanya dibuat khusus pada bulan suci Ramadhan. Di Kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kuliner unik dan khas selama bulan suci Ramadhan. Sebuah masjid di kampung itu, Masjid Darussalam, selalu memasak dan membagikan bubur samin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1906" title="BUBUR SAMIN2" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/BUBUR-SAMIN2-300x225.jpg" alt="BUBUR SAMIN2" width="447" height="331" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em> foto-foto: Agus Sektiawan</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">SETIAP daerah selalu memiliki menu khas untuk berbuka puasa. Khas, karena menu-menu tersebut biasanya memang hanya dibuat khusus pada bulan suci Ramadhan. Di Kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kuliner unik dan khas selama bulan suci Ramadhan. Sebuah masjid di kampung itu, Masjid Darussalam, selalu memasak dan membagikan bubur samin atau bubur banjar kepada warga. Disebut bubur samin, karena bubur tersebut menggunakan minyak samin untuk penyedap. Bubur tersebut juga dikenal dengan nama bubur banjar, karena menu khas itu konon dibawa ke Solo oleh para saudagar dari Banjar, Kalimantan Selatan, hampir 70 tahun  seabad silam.</p>
<p>Tidak ada yang tahu secara persis sejak kapan bubur samin menjadi tradisi menu berbuka di masjid tersebut. Namun menurut Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor, puluhan tahun lalu banyak masyarakat dari Kota Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang batu permata  Martapura. Mereka menjadikan Masjid Darussalam  sebagai tempat berkumpul, hingga akhirnya mereka menetap di perkampungan sekitar masjid. Satu hal benar bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar masjid Darussalam saat ini memang merupakan keturunan orang-orang Banjar. “Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata  Rosyidi Muchdlor. <img class="alignleft size-medium wp-image-1907" title="BUBUR SAMIN1" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/BUBUR-SAMIN1-300x298.jpg" alt="BUBUR SAMIN1" width="300" height="298" />Sekilas, bubur samin memang seperti bubur ayam pada umumnya. Yang  yang membedakannya adalah bumbu dan isi bubur yang terdiri dari potongan daging sapi, aneka rempah-rempah serta sayuran seperti wortel dan daun bawang serta susu.</p>
<p>Proses memasak bubur samin sendiri dilakukan oleh sejumlah pekerja takmir masjid mulai pukul pukul 12.00 hingga pukul 15.00. Setiap hari selama bulan Ramadhan, Takmir Masjid Darussalam sedikitnya memasak 40 kilogram beras untuk konsumsi sebanyak 600 orang. Sejumlah pekerja pun tampak sibuk mengaduk bubur secara bergantian karena banyaknya bubur yang dimasak.</p>
<p>Selain beras, komposisi bubur khas ramadhan ini antara lain berupa santan, aneka sayur dan rempah-rempah, susu serta daging sapi. Tak heran jika bubur ini sangat bergizi. Aroma masakan khas Banjar ini semakin kental dengan campuran rempah-rempah serta minyak kapulaga Arab atau minyak samin yang menjadikan bubur berwarna kekuning-kuningan. Rosyidi menuturkan tradisi membuat bubur samin tersebut muncul jauh sebelum berdirinya masjid. Yang jelas, lanjut Rosyidi, Masjid Darussalam   didirikan oleh para perantau dari Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar tahun 1950. Namun kondisi fidik masjid belum semegah sekarang. Bisa jadi, sebagai sesama perantau, rasa solidaritas orang-orang Banjuar tersebut terjalin dengan erat. Hingga akhirnya setiap bulan Ramadhan, mereka membuat menu berbuka seperti layaknya di tempat asal mereka. Tradisi memasak dan membagikan bubur samin ini kemudian dilakukan secara turun temurun hingga sekarang.</p>
<p>“Menurut cerita kakek saya, dulu pembuatan bubur ini hanya untuk berbuka anggota jamaah masjid yang sebagaian besar adalaj orang-orang Banjar . Namun sejak tahun 1985, porsinya dibuat lebih banyak dan diberikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Semuanya gratis,” ujar Rosyidi. Menjelang waktu berbuka, tepatnya selepas waktu Ashar atau sekitar pukul 16.00, ratusan orang berdatangan silih berganti untuk mengambil bubur samin. Mereka membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Mereka bukan hanya warga Jayengan, tapi juga dating dari kawasan Solo lain, seperti Laweyan, Semanggi, Pajang, Cemani, Pajang, Banjarsari, dan Mojosongo. “Bubur yang kami bagikan ke masyarakat sekitar 500 porsi, sedangkan sisanya sekitar 100 porsi untuk berbuka bersama jamaah  masjid,” ujar Anwar, seorang anggota takmir masjid. <img class="alignright size-medium wp-image-1908" title="BUBUR SAMIN5" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/BUBUR-SAMIN5-300x225.jpg" alt="BUBUR SAMIN5" width="416" height="259" />Cita rasa bubur samin tersebut  memang tergolong unik, lantaran diolah dengan banyak rempah-rempah dan campuran susu. Apalagi para juru masak menambah racikan bubur dengan kayu manis, pandan wangi, sere, jahe, bawang, wortel, dan santan kelapa.</p>
<p>“Sejarah bubur samin ini memang tidak dapat dupisahkan dengan kedatangan orang-orang Banjar ke Solo. Meskipun sekarang sudah hampir tidak ada orang Banjar yang dagang batu permata di Solo, namun tradisi membuat bubur samin ini tetap dilakukan,” tambah Anwar.</p>
<p>Tidak hanya bubur, Masjid Darussalam juga menyediakan minuman khas sebagai pelengkap bubur, yaitu kopi susu. Berbeda dengan kopi susu lain yang dimasak secara terpisah, kopi susu Darussalam ini dimasak dengan cara mencampurkan kopi, susu dan air ke dalam sebuah drum, kemudian memasaknya bersama-sama. Setidaknya dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.500.000 setiap harinya untuk membuat bubur samin dan minuman kopi susu, yang seluruhnya ditanggung oleh takmir masjid.</p>
<p>”Semuanya bisa membawa bubur ini, tanpa membedakan asal dan pekerjaan mereka. Bukan hanya rakyat kecil, pengusaha dan anggota DPR pun banyak yang datang untuk menikmati lezatnya bubur samin ini,” kata Anwar di sela-sela proses memasak bubur.</p>
<p>Begitulah. Selepas adzan Ashar, orang-orang pun berdatangan membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Namun sebagian dari mereka akan tetap tinggal untuk menikmati lezatnya bubur samin di masjid saat berbuka puasa tiba. (Ganug Nugroho Adi)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1905&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/19/menikmati-bubur-samin-di-kampung-jayengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keris Surakarta,  Dari Mitos  Menjadi Karya Seni</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/15/keris-surakarta-dari-mitos-menjadi-karya-seni/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/15/keris-surakarta-dari-mitos-menjadi-karya-seni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 13:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[SEBAGAI pusat budaya Jawa, Solo (Surakarta) sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan. Salah satunya adalah keris. Dalam masyarakat Solo, keberadaan keris hampir selalu seiring dengan mitos-mitos ”isi” dan “kesaktian” yang melingkupinya. Tak bias dipungkiri memang bahwa keris selalu menyimpan rahasia. “Keris itu sinengker karana aris, artinya ada rahasia yang dipendam di dalamnya. Rahasianya tak lain adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1899" title="show_image_NpAdvMainFea.php" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/show_image_NpAdvMainFea.php2-300x252.jpg" alt="show_image_NpAdvMainFea.php" width="383" height="267" /></p>
<p>SEBAGAI pusat budaya Jawa, Solo (Surakarta) sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan. Salah satunya adalah keris. Dalam masyarakat Solo, keberadaan keris hampir selalu seiring dengan mitos-mitos ”isi” dan “kesaktian” yang melingkupinya. Tak bias dipungkiri memang bahwa keris selalu menyimpan rahasia. “Keris itu <em>sinengker karana aris</em>, artinya ada rahasia yang dipendam di dalamnya. Rahasianya tak lain adalah falsafah Jawa,” kata Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, KRAT Winarno Kusuma. .</p>
<p>Sayang, lanjut dia, falsafah kehidupan yang terkandung dalam keris belum banyak diketahui. Sebagian besar masyarakat Solo bahkan lebih memahami keris sebagai senjata pusaka, j<em>imat </em>yang mampu memberikan berkah dan kemudahan. ”Masyarakat masih terjebak pada mitos karena kita telah kehilangan akar budaya. Tulisan berisi ajaran keris dijarah Belanda dan Inggris, dipelajari di sana dan kita hanya ditinggali takhayulnya,” jelas Winarno. <em> </em></p>
<p><em> foto:  amrihgunawan.blogspot.com</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>Menurut kerabat keraton yang juga pelaku budaya itu, anggapan bahwa keris merupakan benda sakti seperti itu tak sepenuhnya salah. Sebab pada awalnya keris memang  dikenal sebagai benda pusaka, benda sakti, yang merupakan salah satu senjata pamungkas kerajaan. Ironisnya, para orang tua atau mereka yang tahu tentang keris, terus-menerus menanamkan pemahaman “kesaktian” keris kepada generasi beriuktnya, bahkan ketika zaman telah berubah.</p>
<p>“Banyak orang tua yang mengingatkan anaknya agar tidak menyentuh keris, karena keris itu berbahaya dan sakti. Akibatnya sampai sekarang masih ada sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai jimat,” tambah dia. Namun di luar mitos kesaktian keris, Winarno mengungkapkan, bagi sebagian besar  masyarakat Solo (termasuk enam kota di sekitarnya; Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri), keris hingga kini masih memiliki tempat yang tinggi dalam kasanah kebudayaan. Keris tidak dilihat sebagai sekadar senjata, tetapi sebagai  benda yang sakral. Hampir seluruh ritual budaya dan kesenian di lingkungan keraton dan ritual-ritual kejawen misalnya, tetap melibatkan keris sebagai perlengkapan utama.  Pada tataran budaya, anggapan sakral masyarakat terhadap keris masih sangat kental. Menurut Sukamdi, pengrajin keris di Banyu Agung, Solo, tataran budaya yang dimaksud misalnya menempatkan keris dalam ritual-ritual kebudayaan baik di dalam atau di luar lingkungan keraton. “Dalam acara <em>mantenan</em> (pengantin), masyarakat Solo masih selalu  menyertakan keris. Keris di sini bukan sebagai lambang kesombongan, tetapi justru menjadi simbol kerendahhatian. Nilai-nilai luhur keris seperti itulah yang seharusnya diajarkan,” jelas Sukamdi. Sementara pada tataran sosial, menurut pelaku budaya yang juga pengrajin keris Ronggojati Sugiyatno, sebagian besar masyarakat Solo masih menempatkan keris dalam ruang-ruang khusus, merawat, dan meyakininya sebagai kekuatan yang mampu memberikan “pertolongan” jika mereka menghadapi kondisi sulit.</p>
<p>“Masyarakat Solo masih percaya bahwa keris merupakan sebuah simbol kekuatan leluhur dan alam semesta,&#8221; katanya.  Sugiyano menjelaskan selama ini banyak orang yang salah kaprah dan tersesat pada mitos mengenai keris. Banyak orang menganggap bahwa keris yang bagus adalah keris yang mengandung kekuatan gaib sehingga mampu mendatangkan rezeki, memberikan kewibawaan, dan bahkan jabatan. Orang-orang tersebut pun datang ke  pembuat keris, kolektor, atau pedagang keris dan membeli dengan harga berapa pun asal mendapatkan keris yang digdaya, keris yang sakti, keris yang mereka kira mampu memberikan banyak kemudahan.</p>
<p>“Mahalnya keris bukan karena keris itu isi atau mempunyai kekuatan gaib, tetapi salah satunya karena sisi artistiknya. Keris sebagai karya seni. Harganya akan lebih mahal lagi jika keris itu memiliki jejak sejarah yang kuat,” ujar Sugiyatno.</p>
<p>Keindahan keris akan semakin terlihat pada seni hidup dan filosofinya. Sebab pada dasarnya  budaya (keris) itu adalah seni kehidupan. Filosofi keris  harus dimasukkan dalam kehidupan supaya manusia lebih bermartabat. Oleh karena itu keris harus didalami filosofinya. Keris bukan sekadar senjata tajam, karena di dalam keris tersimpan simbolisasi hidup baik sesuai etika, norma, agama, dan negara.</p>
<p>“Sayangnya tidak banyak masyarakat yang tahu pemahaman seperti itu. Bahkan masyarakat Solo yang nota bene tinggal di pusat kebudayaan Jawa pun tidak banyak yang tahu. Mereka tahunya keris itu keramat. Sudah itu <em>thok</em>,” ujar Sugiyatno yang juga mengkoleksi puluhan keris klasik tangguh Surakarta karya Empu Brojoguna, Brojokarya, Brojo Sentika,dan  Empu Japan.</p>
<p>Namun Sugiyatno mengakui adanya beberapa jenis besi (sebagai bahan dasar keris) yang memiliki aura tertentu. Aura tersebut semacam <em>candra</em> (kode alam), seperti halnya yang terkandung dalam batu mulia, atau benda-benda alam lain. Dia mencontohkan adanya dua jenis besi yang tidak bisa disatukan, yaitu pulosani dan kamboja. “Kalau nekat disatukan dalam satu keris, maka keris itu akan cepat rusak. Kalau dua keris yang berbahan besi itu saling didekatkan, ya akan saling bertolak. Bukan karena keris itu sakti, tapi karena materi dasarnya sudah berlawanan,” jelas dia. Sugiyatno juga menyebutkan beberapa jenis ukir yang memiliki makna. Ukir Sekar Sri Mulyo misalnya, bermakna harapan agar pemilik keris hidup sukses, atau Sekar Mudang, di mana pemilik keris dapat dipercaya, menjaga kehormatan, dan bertanggung jawab terhadap keluarga.</p>
<p>“Sebuah ironi memang. Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa, sebagian besar masyarakatnya belum memaknai keris sebagai proses karya yang penuh makna.”</p>
<p>Winarno Kusuma menambahkan selain sebagai karya seni yang agung, pihak keraton juga memandang keris sebagai pelengkap ritual budaya. Ia mencontohkan bahwa raja harus mengenakan keris ketika dalam prosesi rirual Tingalan Jumenengan.</p>
<p><em>kumorofoto.blogspot.com</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1902" title="keris" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/keris-300x204.jpg" alt="keris" width="350" height="204" />“Keris di sini diperlukan karena untuk melengkapi busana raja, jadi bukan karena keris itu dianggap sakti atau mempunyai kekuatan magis.”</p>
<p>Winarno mengutip apa yang pernah disampaikan Paku Buwono X bahwa keris merupakan bagian terpenting dalam kelompok tosan aji (senjata pusaka) yang di masa silam melambangkan status dan kewibawaan seorang manusia Jawa. Dalam dunia tosan aji, manusia Jawa merumuskan doa yang diwujudkan dalam sebentuk pusaka keris. Doa itu dilantunkan dalam laku, mulai tapa, matiraga, tapa bisu, dan lainnya.</p>
<p>“Jadi keris sesungguhnya media untuk berdoa. Cita-cita dan harapan manusia Jawa dimantramkan dalam keris. Ia adalah sebuah keyakinan dan buku hidup. Wujud keris yang ber-luk (berlekuk) adalah simbol kebijaksanaan, sedangkan keris lurus adalah simbol keteguhan prinsip. Kebijaksanaan dan tekad itu harus seimbang dan akhirnya bermuara ke atas (Tuhan). Karena itu, keris ujungnya lancip,” ujar Winarno.</p>
<p>Subandi, pengrajin keris asal Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah Subandi sependapat dengan Winarno. Dalam kasanah budaya di Solo, peran keris memang masih kental.  Para penggemar keris di Solo pun sebagian besar adalah para pelaku budaya, kerabat keratin, atau mereka yang mempunyai minat dan ketertarikan dengan masalah budaya. Jika ada kelompok yang masih salah kaprah menyikapi keris, menurut Subandi, hal itu wajar karena mereka pada umumnya masih awam dengan dunia perkerisan. Namun Subandi menolak jika persoalan ekslusivitas yang menjadikan keris tak terjamah oleh masyarakat awam. “Di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta sudah ada jurusan keris yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Saya kira itu meruapkan salah satu upaya agar masyarakat tidak lagi tersesat dalam mitos keris sebagai benda sakti,” ujarnya.</p>
<p>Subandi melanjutkan sekarang ini bahkan bukan hanya ISI, para pengrajin keris pun membuka <em>besalen-besalen</em> (tempat pembuatan keris) untuk masyarakat umum. Pemahaman atas keris harus dipahami dengan masa sekarang.</p>
<p>“Kalau masa sekarang ini ada pengrajin keris yang membuat keris dengan berdiam diri di goa, itu hanya akal-akalan pengrajin agar kerisnya laku mahal,” tuturnya.</p>
<p>Dalam pandangan Ronggojati Sugiyatno, keris  merupakan produk kriya budaya peradaban yang terus bergerak dinamis, keris dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seluruh dimensi nilai hidup manusia (Jawa). Secara filosofis, keris menjadi ekspresi nilai-nilai artistik, estetik, etik, dan intrinsik dalam satu kesatuan karya kriya budaya. Meminjam dimensi filosofi di balik tongkat Nabi Musa dan pedang nabi Muhammad SAW, sebagian kalangan meyakini, keris mengandung metadaya tertentu. Meskipun bukan merupakan mukjizat Ilahiyah.</p>
<p><em>javakeris.com</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1901" title="wpe-ef" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/wpe-ef-300x241.jpg" alt="wpe-ef" width="383" height="307" />“Kalau kemudian keris diartikan sebagai benda sakti kemudian untuk berbuat macam-macam, itu ya penyalahgunaan oleh pemilik keris &#8221; kata dia. Pasopati, sebuah komunitas pencinta keris dan tosan aji di Solo, lewat beberapa pameran mencoba mengubah stigmatisasi masyarakat bahwa keris adalah karya seni, bukan benda sakti. Dalam pameran Tosan Aji di Sitihinggil Kasunanan Surakarta pertengahan bulan Juli lalu, Beny, salah satu panitia pameran, menegaskan hal itu. &#8220;Keris yang pada mulanya diciptakan sebagai senjata, kini merupakan benda seni tanpa meninggalkan kekokohan nilai budayanya,&#8221; katanya. Pameran bukan sekadar memajang ratsusan keris, tapi juga menunjukkan secara terbuka proses pembuatan keris. Dengan cara irtu, menurut Beny, mereka tidak lagi mengistimewakan keris sebagai benda sakti, melainkan karya seni warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. “Kita seharusnya menempatkan keris sebagai produk peradaban manusia Indonesia. Keris juga sebagai salah satu tanda betapa nenek moyang bangsa ini adalah bangsa yang beradab.” (<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1891&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/15/keris-surakarta-dari-mitos-menjadi-karya-seni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hiromi Kano: From Japan for Sinden</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/hiromi-kano-from-japan-for-sinden/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/hiromi-kano-from-japan-for-sinden/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 05:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMENTASI SOLORAYA]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[SOSOK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1883</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Ganug Nugroho Adi GENDING “Ketawang Kinanthi Sandhung Pelog Barang” itu terdengar  bening. Lantunan sandhung pelog barang-nya terdengar panjang  dan      bulat. Diselingi suwuk, suara jernih perempuan itu kembali meliuk melantunkan macapat dhudhuk wuluh “Ayak-ayakan Mijil Sulastri Wolak-walik, beralih ke srepeg slendro manyura (jenis laras nada pentatonis). Ketika sampai pada bagian cengkok miring, penonton seperti menahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-medium wp-image-1884" title="HIROMI1" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/HIROMI1-300x176.jpg" alt="HIROMI1" width="512" height="299" /></em></p>
<p><em>Foto: Ganug Nugroho Adi</em></p>
<p>GENDING “Ketawang Kinanthi Sandhung Pelog Barang” itu terdengar  bening. Lantunan <em>sandhung pelog barang</em>-nya terdengar panjang  dan      bulat. Diselingi <em>suwuk</em>, suara jernih perempuan itu kembali meliuk melantunkan macapat <em>dhudhuk wuluh </em>“Ayak-ayakan Mijil Sulastri W<em>olak-walik</em>, beralih ke <em>srepeg slendro manyura</em> (jenis laras nada pentatonis). Ketika sampai pada bagian cengkok miring, penonton seperti menahan napas, terkesima lantunan nada-nada pentantonis yang dibawakan dengan sempurna oleh perempuan bertubuh mungil yang duduk di dekat dalang Ki Manteb Soedharsono di panggung pentas wayang kulit lebar tapi pendek  itu.  Perempuan itu Hiromi Kano, salah satu pesinden yang sering tampil bersama “dalang setan” Ki Manteb Soedharsono. Dari namanya sudah bisa ditebak ia perempuan Jepang. Namun kecuali nama yang menjadi tanda “kejepangannya” itu, sepintas memang hampir tak tampak lagi tanda-tanda lain bahwa ia berasal dari Negeri Sakura, meski kulit perempuan itu putih dan matanya sipit. Sosoknyanya sebagai orang Jepang seperti menguap, terlebih ketika ia <em>nyinden</em> dengan busana kebesarannya; kebaya lengkap dan sanggul besar khas Jawa.</p>
<p>Hiromi Kano namanya. Lahir di Chiba, Jepang, 31 Januari 1967. Sejak kecil ia menyukai musik. Ia belajar piano klasik sejak duduk di sekolah dasar. Tahun 1991, Hiromi adalah mahasiswa seni jurusan musik barat dan piano di Tokyo Ongaku Daigaku (Universitas Musik Tokyo).</p>
<p>Ketika menginjak semester akhir, Hiromi takjub ketika seorang dosennya memainkan gamelan Jawa. Sebenarnya kekagumannya tertuju pada gamelan Bali, yaitu saat masih SMA. Ketika itu ia secara tak sengaja menemukan sebuah gelombang radio yang khusus menyiarkan musik tradisional Indonesia.</p>
<p>“Sejak itu saya tergila-gila dengan gamelan , tapi di kampus tidak ada jurusan itu. Ketika semester akhir ada mata kuliah pilihan gamelan Jawa, saya langsung masuk kelas itu. Tidak ada gamelan Bali, gamelan Jawa juga boleh,” kata Hiromi dengan logat Jawa.</p>
<p>Tahun 1988 ia mengisi liburan semesterannya dengan datang ke Indonesia, khusus untuk melihat gamelan Jawa lengkap, saat ada perhelatan Pekan Wayang di Jakarta. Selama dua bulan ia keliling Jawa Tengah untuk belajar gamelan. Hiromi bahkan sempat <em>nyantrik</em> (belajar) <em>nyinden </em> antara lain   pada dalang Ki Sutarman (almarhum) dan Supadmi (sinden dan dosen Insititut Seni Indonesia, ISI, Surakarta).</p>
<p>“Delapan tahun setelah itu saya baru bisa kuliah di ISI dengan beasiswa Pemerintah Indonesia. Sebelumnya saya mencari beasiswa ke mana-mana, tapi selalu gagal. Orang tua tidak setuju, tapi saya nekat berangkat. Saya benar-benar jatuh cinta dengan gamelan. Piano saya tinggalkan, ” tutur Hiromi.</p>
<p>Tak hanya gamelan, di Jurusan Karawitan ISI Surakarta, Hiromi sekaligus  belajar beberapa seni-budaya Jawa lain, seperti sinden dan pewayangan. Secara otomatis  perempuan itu juga  belajar berbahasa Jawa.</p>
<p>“Di Solo saya kembali bertemu Nyi Supadmi, kemudian Nyi Sudarti dan KRT Prajanegara yang mengajari <em>nyinden</em> secara privat,” ujar Hiromi sambil merapikan kertas-kertas berisi jadwal pentas <em>nyinden</em> di meja ruang tamu rumahnya.</p>
<p>Ada cerita menarik mengenai kursus sinden itu. Awalnya, satu-satunya alasan Hiromi menjadi sinden adalah agar bisa diajak dalang yang mendapat tanggapan pentas. Honor dari <em>nyinden</em> itu digunakan untuk biaya hidup sehari-hari di Solo.</p>
<p>“Uang beasiswa tidak besar dan hanya untuk setahun. Saya harus mencari tambahan untuk menutup yang empat tahun. Kalau bisa <em>nembang</em> gending Jawa kan bisa untuk mendari uang,” kata perempuan berperawakan kecil itu.</p>
<p>Sinden Supadmi, menurut Hiromi, sangat berperan mempromosikan dirinya ke para dalang. Hingga akhirnya ajakan dalang Ki Purbo Asmoro merupakan pengalaman pertama Hiromi menjadi sinden profesional.  Sejak pengalaman pertama itu, Hiromi menjadi langganan <em>nyinden </em>oleh dalang-dalang kondang. Saat masih kuliah, Hiromi terpaksa menolak beberapa ajakan dalang, karena waktu pentas sering kali bertabrakan dengan jadwal kuliah.</p>
<p>“Saya tidak ingin kuliah berantakan. Saya ke Indonesia untuk kuliah. Saya malu kalau kuliah tidak selesai.”</p>
<p>Hiromi benar-benar mempunyai banyak waktu setelah kuliahnya rampung.  Tawaran menjadi sinden pun semakin banyak. Selama 13 tahun terakhir, ia malang melintang dari panggung ke panggung pertunjukan wayang di hampir seluruh wilayah Indonesia bersama dalang-dalang kelas satu, seperti   Anom Suroto, Manteb Soedharsono, Purbo Asmoro, Slamet Gundono (Solo), Gito Purbo Carito (Banyumas), Enthus Susmono (Tegal), Sokron Sowondo (Blitar), Suparno Wonokromo (Sumatera). Jadwal tanggapan <em>nyinden </em>Hiromi memang cukup padat. Dalam sebulan setidaknya ada 10 undangan pentas yang sebagian besar di luar kota Solo. Untuk bulan Juli ini, misalnya, ia hanya sekali pentas di Solo, yaitu pada 29 Juli  mendatang. Beberapa undangan lainnya datang dari luar kota, seperti Semarang, Yogyakarta, Tegal, serta sejumlah kota di Jawa Timur dan Sumatera.</p>
<p>Hiromi mengakui, sinden -termasuk gamelan dan pewayangan- telah menjadikan kehidupannya lebih baik. Namun kecintaan perempuan Jepang itu terhadap seni sinden kini bukan semata-mata karena uang.  Hiromi juga selektif dalam menerima tawaran pentas.</p>
<p>“Saya tidak mau kalau musik campursari. Bukan menyepelekan, tapi nada campursari itu diatonik, sehingga bisa merusak nada pentatonik yang masih saya pelajari,” kilahnya.</p>
<p>Sejurus kemudian, Hiromi melantunkan beberapa potong lirik tembang macapat Pocung, yang berisi pesan bahwa segala ilmu baru akan bisa bermanfaat jika di amalkan. Ilmu hendaknya digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan.</p>
<p><em>Ngelmu iku kalakone kanthi laku/Lekase lawankas/</em></p>
<p><em>Tegese kas nyantosani/Setya budya pangekese dur angkara..</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“Saya suka nadanya yang unik (pentatonik). Apalagi lirik tembangnya mengandung banyak kearifan budaya, <em>piwulang</em> (ajaran) tentang nilai-nilai moral. Ini kesenian Jawa yang luar biasa,” kata perempuan yang pernah tampil dalam Festival Sinden Internasional 2009 di TMII Jakarta.</p>
<p>Dengan belajar sinden, lanjut Hiromi, otomatis akan belajar juga mengenal dunia pewayangan, tembang-tembang macapat, <em>gendhing</em> dan gamelan yang menyimpan banyak falsafah kehidupan Jawa. Di rumahnya yang sederhana di kawasan Mojosongo, Solo, kini Hiromi tinggal bersama suaminya, Wiyono, yang menikahinya tahun 2002. Meski bersuamikan orang Indonesia, namun Hiromi tetap memilih kewarganegaraan Jepang. “Bagaimana pun leluhur saya ada di sana. Saya masih punya adik di Jepang, sehingga kalau sewaktu-waktu ingin menengok gampang,” kata perempuan santun dan ramah itu. (<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1883&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/hiromi-kano-from-japan-for-sinden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyadran, Ritual Bersih Diri Menjelang Ramadhan</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/nyadran-ritual-bersih-diri-menjelang-ramadhan/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/nyadran-ritual-bersih-diri-menjelang-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 05:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMENTASI SOLORAYA]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[KLIPING BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1862</guid>
		<description><![CDATA[“Monggo, monggo, mampir dulu. Silakan makan. Monggo, mas, mbak, jangan sungkan-sungkan…” undangan ramah mengajak singgah ke rumah dan menyatap hidangan akan itu terdengar tak putus-putus datang dari setiap rumah di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.  Bukan undangan basa-basi, tetapi benar-benar ajakan yang penuh harap dari warga desa. Keramahan seperti itulah yang diberikan warga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1866" class="wp-caption alignleft" style="width: 523px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-1866" title="Nyadran Boyolali1" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/Nyadran-Boyolali13-300x200.jpg" alt="Warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah,            berdoa bersama di sekitar makan leluhur desa dalam ritual            nyadran menjelang Ramadhan, akhir pekan lalu. (Foto: Sri Nugroho)  " width="513" height="341" /></dt>
</dl>
</div>
<p>“<em>Monggo, monggo,</em> mampir dulu. Silakan makan. <em>Monggo</em>, mas, mbak, jangan sungkan-sungkan…” undangan ramah mengajak singgah ke rumah dan menyatap hidangan akan itu terdengar tak putus-putus datang dari setiap rumah di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.  Bukan undangan basa-basi, tetapi benar-benar ajakan yang penuh harap dari warga desa.</p>
<p>Keramahan seperti itulah yang diberikan warga desa di lereng Gunung Merbabu-Merapi dalam sepekan belakangan ini sejak Rabu (28/7) lalu. Bisa dipastikan, hampir semua warga desa akan mempersilakan setiap orang yang datang ke desa mereka untuk singgah ke rumah dan menikmati hidangan. Yang menarik, menu yang ditawarkan bukanlah menu seadanya. Menu makan besarnya malah tergolong mewah, yaitu terdiri dari berbagai masakan daging sapi, opor ayam, lontong, nasi tumpeng berikut hidangan pelengkap seperti jajanan dan buah-buahan. Dalam sepekan itu, warga Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, memang  sedang mempunyai hajatan. Keramahan warga tersebut merupakan bagian dari tradisi <em>sadranan</em> atau <em>nyadran</em>, sebuah ritual yang digelar menjelang datangnya bulan Ramadhan.  Tak hanya Desa Sukabumi sebenarnya, tetapi juga lima desa lain di Kecamatan Cepogo, yaitu Desa Sambungrejo, Desa Clolo, Desa Ngepos, Desa Ngluntung dan Desa Bendosari pun menggelar ritual yang sama. Sebab para leluhur dari keenam desa itu dimakamkan di makam yang sama.</p>
<p>Tradisi <em>nyadran</em> atau <em>sadranan</em> yang juga berarti membersihkan tempat makam sekaligus mengirim doa untuk leluhur setiap bulan Ruwah (kalender Jawa) atau Syaban dalam kalender Hijriyah, adalah sedikit dari budaya masyarakat Jawa yang masih berlangsung. Kata Ruwah sendiri memiliki akar kata “arwah”, atau roh para leluhur. Konon dari arti kata arwah itulah yang menjadikan bulan  Ruwah sebagai bulan untuk mengenang sekaligus mendoakan para leluhur.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1867" class="wp-caption alignright" style="width: 419px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-1867" title="Nyadran Boyolali" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/Nyadran-Boyolali2-300x200.jpg" alt="Warga beramai-ramai membuka berbagai makanan yan mereka bawa            dari rumah untuk disantap bersama di lokasi makam leluhur.(Foto: Sri Nugroho)" width="409" height="273" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Di Kecamatan Cepogo tradisi <em>nyadran</em> ini memang sedikit unik. Tidak hanya           membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dalam tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini warga juga saling bersilaturahmi. Bulan Ruwah bahkan dianggap sebagai salah satu hari besar bagi masyarakat Cepogo dan desa-desa sekitarnya di lereng Gunung Merbabu-Merapi. Sebab justru saat  <em>ruwahan</em> (Ruwah) itulah sebagian besar warga Cepogo yang berada di rantau mudik. Maka tak mengherankan jika <em>nyadran</em> di kawasan Cepogo akan terasa lebih sakral dan meriah dibandingkan Hari Raya Idul Fitri  sendiri.</p>
<p>“Lebaran masih kalah ramai. Biasanya warga di sini mudik  pada saat <em>nyadran</em>. Tidak banyak warga Cepogo yang mudik saat lebaran,” kata Sukarman, seorang tokoh Desa Sukabumi.</p>
<p>Makanan pun melimpah. Hampir setiap rumah di Cepogo menyediakan hidangan untuk para tamu. Mereka yang datang ke desa-desa di Cepogo pun “wajib” singgah ke rumah-rumah warga dan  mencicipi hidangan. Bayangkan, jika dalam sehari seorang tamu bertandang ke  10 rumah, berarti mereka “harus” makan sebanyak 10 kali. Konon jika sang tamu menolak singgah dan makan, berkah dan rezeki akan menjauh darinya.</p>
<p>“Selama sepekan masa <em>nyadran</em>, setiap rumah di desa ini biasanya kedatangan sekitar 1.000 tamu. Jumlah makanan ya banyak sekali, pokoknya sampai melimpah-ruah,” ujar Kepala Desa Sukabumi, Abdul Rosyid.</p>
<p>Rosyid menambahkan tidak ada warga yang merasa terpaksa dalam menjamu para tamu. Sebab warga meyakini semakin banyak tamu yang menyantap hidangan yang mereka suguhkan, maka makin berlimpah pula rezeki si tuan rumah.</p>
<p>Saat nyadran seperti ini, tak hanya orang muda yang mendatangi orang tua, namun para orang tua pun banyak yang bertamu ke keluarga muda. Bahkan para juragan (pengusaha) bias dengan ikhlas mendatangi anak buahnya. Warga saling berkunjung tanpa membedakan status dan jabatan.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1868" class="wp-caption alignright" style="width: 396px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-1868" title="nyadran Solo" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/nyadran-Solo1-300x201.jpg" alt="warga melakukan ziarah kubur di makam leluhur            mereka dalamrangkaian ritual nyadran.(Foto: Sri Nugroho)" width="386" height="245" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Dalam sepekan itu pula, di sela-sela bersilaturahmi, masyarakat Cepogo melaksanakan ziarah ke makam leluhur. Namun puncak dari <em>sadranan </em>dilakukan dua hari menjelang bulan puasa, yaitu Minggu (8/10), setelah malam sebelumnya  warga menggelar tahlilan. Pada hari itu, ratusan warga berkumpul di sekitar Makam Tunggulsari, sambil membawa aneka makanan, seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, dan aneka jajanan dalam tenong-tenong besar. Di Makam Tunggulsari itulah terbaring  Kyai Bonggoljati dan Kyai Soyudha yang merupakan makam leluhur warga enam desa di Kecamatan Cepogo.</p>
<p>Mereka kembali membaca tahlil dan berdoa bersama, sebelum akhirnya ritual <em>nyadran</em> ditutup dengan warga yang saling menukarkan makanan, kemudian menyantapnya bersama di sekitar makam.</p>
<p>Menurut juru kunci makam, Sumahdi, masyarakat mendoakan dan memintakan maaf kepada Tuhan atas doa-dosa leluhur desa serta sanak keluarga yang sudah meninggal. Mereka juga memohon maaf, mengucapkan syukur, dan berdoa untuk diri sendiri dan keluarga yang masih hidup. “Sebelum menjalankan ibadah puasa kita harus bersih dan membersihkan keluarga yang sudah meninggal, agar ibadah lancar. Itu sebenarnya inti dari <em>ruwahan</em> atau <em>nyadran</em>,” kata juru kunci makam, Sumahdi.</p>
<p>Tradisi Padusan</p>
<p>Tapi rangkaian ritual <em>sadranan</em> belum sepenuhnya selesai. Seusai tradisi ziarah, tepat sehari sehari sebelum memasuki bulan puasa masyarakat melakukan ritual <em>padusan. </em>Di Desa Samiran, Selo, Boyolali, ritual nyadran  merupakan puncak sekaligus penutup <em>sadranan</em>. Seperti dalam <em>nyadran</em>, warga pun  menyiapkan aneka sesaji berupa nasi tumpeng dan hasil bumi dalam ritual <em>padusan</em> ini. Aneka sesaji itu diarak menuju Sendang Kali Gono untuk dipersembahkan ke penguasa gaib yang bernama Mbah Gono. Di Desa Sammiran, pengaruh animisme dan mistik memang masih kental.</p>
<p><em> Foto-foto: Sri Nugroho</em></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1869" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-1869" title="padusan pengging" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/padusan-pengging1-300x201.jpg" alt="Ritual padusan di Umbul Pengging, Boyolali, Jawa Tengah,            yang mulai kehilangan nilai-nilai skralnya karena sudah            dikomersilkan. (Foto: Sri Nugroho)" width="300" height="201" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Uniknya, sesaji padusan tak hanya berupa makanan, tetapi juga dalam bentuk atraksi kesenian kuda kepang (kuda lumping). Warga meyakini Mbah Gono sebagai leluhur sekaligus pendiri desa, sangat menggemari kesenian kuda kepang.</p>
<p>Dipimpin oleh kepala dusun, pada Selasa (10/08) pagi itu ratusan warga mengarak sesaji menuju sendang yang berjarak sekitar 1 km dari lapangan desa.  Para tokoh desa mengenakan busana adat Jawa. Sesampai di sendang juru kunci memimpin doa, sebelum akhirnya memercikkan air pertama sendang ke kepala dan tubuh warga paling muda. Selepas percikan pertama sang juru kunci, warga pun bergiliran menyusul mandi. Rangkaian panjang ritual <em>nyadran</em> di lereng Gunung Merbabu dan Merapi, Boyolali, itu  pun berakhir di Sendang Kali Gono. Tahun depan mereka akan kembali melakukan ritual yang sama. Warga tidak melupakan tradisi lama warisan leluhur, meski agama Islam telah memberikan nafas baru bagi mereka. Di beberapa tempat, <em>padusan</em> memang masih menyimpan kesakralannya. Namun  di sejumlah tempat lain, terutama di daerah perkotaan, ritual <em>padusan</em> telah menjadi komoditi pariwisata. “Masyarakat lupa bahwa <em>padusan </em>itu bukan sekadar mandi dan keramas menjelang puasa.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1875" title="FOTO PADUSAN2" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/FOTO-PADUSAN21-300x201.jpg" alt="FOTO PADUSAN2" width="407" height="272" /></p>
<p>Namun lebih kepada pembersihan raga dan jiwa sehingga benar-benar bersih, suci dan siap untuk berpuasa,” ujar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Winarso Kalinggo, seorang budayawan di Solo, Jawa Tengah.Tradisi <em>padusan</em>, lanjut Kalinggo, sudah kehilangan ruhnya. Apalagi belakangan ini ritual <em>padusan</em> mulai dijual demi kepentingan pariwisata. Bahkan banyak tempat-tempat <em>padusan</em> yang dilengkapi dengan panggung dangdut. “Nilai sakral mulai ditinggalkan, tetapi lebih mengejar pada jumlah pengunjung. Sekain banyak orang datang, maka semakin banyak pula tiket yang terjual,” ujar  Kalinggo yang juga Ketua Komite Museum Radya Pustaka Solo. Di kolam, pantai, atau wisata peariran lain,  warga berbaur seperti tak bersekat. Mereka datang untuk sekadar mandi, berbasah-basah, sementara yang lain memanfaatkan untuk cuci mata. Ritual <em>padusan</em> yang merupakan simbol pembersihan diri untuk menyambut Ramadhan telah dipahami dengan cara keliru, sehingga tak ada bedanya dengan mandi biasa. Tradisi <em>padusan</em> yang sesungguhnya merupakan tahap akhir dari prosesi pembersihan diri sebelum puasa, justru telah bergeser  maknanya. (Ganug Nugroho Adi)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1862&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/14/nyadran-ritual-bersih-diri-menjelang-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIPA 2010: Magnet Lain Tarian Rakyat Austria</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/08/01/sipa-2010-magnet-lain-tarian-rakyat-austria/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/08/01/sipa-2010-magnet-lain-tarian-rakyat-austria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 14:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMENTASI SOLORAYA]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1836</guid>
		<description><![CDATA[TARIAN RAKYAT: Dua pasang penari dari kelompok Markt Alhau, Buchschachen, Austria, membawakan nomor tari “Keinner Mann” dalam ajang Solo International Performing Art (SIPA), di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/7).Foto: Agus Sektiawan DARI pojok depan panggung, alunan merdu styrian concertina, sebuah alat musik khas Austria, membawa sepuluh pasang penari masuk panggung. Mereka saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-large wp-image-1841" title="SIPA (TARI RAKYAT AUSTRIA)" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/08/SIPA-TARI-RAKYAT-AUSTRIA1-1024x679.jpg" alt="SIPA (TARI RAKYAT AUSTRIA)" width="607" height="401" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;" lang="EN-US">TARIAN RAKYAT: Dua pasang penari dari kelompok<span> </span>Markt Alhau, <em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;; font-style: normal;">Buchschachen</span></em><em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;; font-style: normal;">,  Austria</span></em><em><span>, membawakan nomor tari </span></em>“Keinner Mann”  dalam ajang Solo International Performing Art (<span>SIPA</span>),  di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/7).</span></em><em>Foto: Agus Sektiawan</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p><strong>DARI </strong>pojok depan panggung, alunan merdu s<em>tyrian concertina</em>, sebuah alat musik khas Austria, membawa sepuluh pasang penari masuk panggung. Mereka saling bergandengan, berhenti di tengah membentuk lingkaran. Layaknya permainan jamuran, jenis dolanan tradisional anak-anak. Dimainkan oleh seorang musisi, alat musik tradisional mirim akordeon itu kembali mengalun dalam tempo cepat dari pojok depan panggung. Sepuluh pasang penari mulai menari, membawakan gerak-gerak dansa dengan <em>bit</em> yang lebih cepat dari gerak dansa pada umumnya. Uniknya, kedua puluh penari tersebut tak selalu menari dengan pasangan yang sama. Di sela-sela gerak berputar, misalnya, satu sama lain dengan cepat bertukar psangan. Itulah tarian rakyat Markt Alhau,  <em>Buchschachen, Austria, yang tampil di hadapan ribuan penonton gelaran Solo International Performing Arts (SIPA) hari pertama, Jumat (16/7) malam, di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah. Nama g</em>roup tari rakyat ini diambil dari nama tempat anggota kelompok berasal, Markt Allhau &#8211;sebuah desa di propinsi sebelah timur Austria, Burgenland. Kembali ke tarian, malam itu Markt Alhau membawakan rangkaian delapan nomor</p>
<p>yang sebagian merupakan nomor pasangan. Suasana gembira merupakan napas dari nomor- nomor yangdibawakan. Sebab, seperti kata seorang penari, Christa Erdely, pada dasarnya tarian yang merekasemata-mata untuk kesenangan. Delapan nomor tarian semuanya berkisah tentang cinta dan kehidupan sosial yang berlangsung di sekitar Markt Allhau. Dari sisi pertunjukan, tari Tarian rakyat Austria ini sebenarnya sangat sederhana dan terkesan monoton. Sederhana, karena hampir tak ada gerakan istimewa. Gerak penari hampir tak berbeda dengan gerak-gerak dasar dansa. Sepanjang 45 menit pertunjukan, tarian didominasi oleh gerakan melangkah maju atau mundur kemudian berputar secara berpasangan dengan tangan-tangan penari tetap bergandengan. Tarian ini juga monoton karena terlalu banyak gerakan yang diulang-ulang. Sangat berbeda Vienna Ball, dansa Austria yang memadukan kemewahan, seni, dan keindahan di tengah iringan musik opera yang syahdu. Kostum penari juga sama sederhananya dengan tarian yang dibawakan. Penari pria mengenakan kemeja warna putih dengan rompi hitam serta celana panjang hitam dengan kombinasi biru di bagian atas. Sementara blus hitam-hitam dengan kombinasi atasan putih bagi penampil wanita. Itulah busana khas masyarakat pendesaan tempo dulu di Eropa, khususnya Austria. Satu-satunya gerakan yang cukup mengejutkan muncul dalam nomor “Keinner Mann”, yaitu ketika dua pemuda memutar masing-masing pasangannya dalam pelukannya, sehingga si perempuan terlihat terbang berputar seperti drumolen. Nomor lain yang cukup unik barangkali juga bisa dilihat  dalam “Loipensclonfen Wickler”. Tiga penari bergandengan tangan melakukan gerakan dansa. Dalam jeda bunyi akordeon, dua penari saling berhadapan, sementara satu penari di tengah tiba-tiba melakukan gerakan koprol,  jungkir balik di antara tangan dua penari lain yang bergandengan. Selebihnya hampir tak terjadi gerakan-gerakan yang mencengangkan. Di sepanjang pertunjukan, para penari hanya terkesan sedang asyik berdansa saja. Kalaupun ada variasi, sesekali mereka berdansa dalam beberapa kelompok yang terdiri tiga atau empat pasang, sebelum akhirnya kembali dalam kelompok besar. Namun tarian ini tetap saja memberikan magnet. Kecuali aksi “penari terbang” yang sempat mengejutkan, salah satu yang cukup mengesankan dari tarian rakyat Austira ini barangkali stamina para penari dan pemain “akordeon” yang sangat terjaga. Betapa tidak, sepanjang 45 menit mereka nyaris terus bergerak tanpa jeda. Sesekali mereka memulai gerakan dari ujung panggung, namun pada kali lain mereka mengawali dansa dari ujung yang lain. Hebatnya, nuansa gembira tetap terlihat di sepanjang tarian. Toh meski demikian, antusiasme publik Solo tetap luar biasa. Begitu Markt Allhau menyelesaikan pertunjukannya, tepuk tangan tetap membahana mengantar kelompok tari tersebut turun panggung. Markt Allhau tampil di SIPA dengan membawakan delapan reportoar tari, antara lain “Untensteiren Landlen”, “Kleiner Mann” dan “Loipensclonfen Wickler”. Seluruh tarian dalam kelompok tari rakyat <em>Markt Allhau</em> ini merupakan tarian tradisi yang sudah sangat tua di <em>Buchschachen</em>. Pimpinan Markt Allhau, Paul Erdely, menuturkan pada masa lalu, leluhur warga <em>Buchschachen</em> membawakan tarian ini untuk menyambut pesta pengantin, pergantian tahun, dan panen raya. Oleh karena itu, suasana tari selalu riang. “Secara simbolis, tarian-tarian ini sebagai pesta rakyat terutama saat menyambut panen raya gandum,” jelas Paul.</p>
<p>Paul menyebutkan pada umumnya tarian rakyat Austria memang cenderung sederhana, tidak kompleks seperti halnya tarian Jawa. Gerak dan musik yang ritmis hampir tak pernah dijumpai dalam tari-tari tardisional Austria, karena sebagian besar tarian tersebut lahir dari spontanitas. Sementara tarian Jawa lebih banyak muncul dari perenungan sehingga memiliki sebuah cerita sejarah yang panjang dan biasanya mengandung filosofi. Tarian rakyat <em>Markt Allhau </em>ini sempat tidak pernah dibawakan dalam waktu lama karena masa-masa perang. Kelompok <em>Markt Allhau sendiri</em> baru muncul pasaca Perang Dunia II tahun 1949, setelah rakyat <em>Buchschachen </em>mulai menikmati kembali kehidupan normal. Dalam beberapa dekade, kelompok  <em>Markt Allhau, Buchschachen</em> bertahan. “Kami hanya memiliki kebanggaan, karena hingga kini masih bias membawakan tarian tradisi. Ini salah satu bentuk dari pelestarian kami terhadap budaya kami,” tambah Paul. Kelompok <em>Markt Allhau</em> terdiri dari para pemuda dan pemudi yang berasal dari daerah setempat. Ada beberapa pemuda yang tergerak untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi kelompok tari rakyat di daerah kelahirannya, Markt Allhau. &#8220;Kami selalu terlibat untuk mempelajari dan mementaskan tarian-tarian tradisional khas daerah sebagai salah satu bentuk pelestarian. Kami merasa bangga jika tetap bisa mempersembahkan tarian-tarian tersebut dari generasi ke generasi,&#8221; ujar Paul. (<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1836&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/08/01/sipa-2010-magnet-lain-tarian-rakyat-austria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sesaji 100 Tahun Wayang Orang Sriwedari</title>
		<link>http://kabarsoloraya.com/2010/07/30/sesaji-100-tahun-wayang-orang-sriwedari/</link>
		<comments>http://kabarsoloraya.com/2010/07/30/sesaji-100-tahun-wayang-orang-sriwedari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[DOKUMENTASI SOLORAYA]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kabarsoloraya.com/?p=1821</guid>
		<description><![CDATA[PERIH rasanya melihat kondisi Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, terseok-seok. Penonton yang merupakan penyokong utama bagi kelangsung­an hidup kelompok wayang orang itu, jumlahnya terus menyusut dari waktu ke waktu. Setiap kali pentas, Senin hingga Jumat, jumlah penonton hanya berkisar antara empat sampai tujuh orang. Pada Sabtu malam atau malam minggu yang diharapkan mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERIH rasanya melihat kondisi Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, terseok-seok. Penonton yang merupakan penyokong utama bagi kelangsung­an hidup kelompok wayang orang itu, jumlahnya terus menyusut dari waktu ke waktu. Setiap kali pentas, Senin hingga Jumat, jumlah penonton hanya berkisar antara empat sampai tujuh orang. Pada Sabtu malam atau malam minggu yang diharapkan mampu menjaring jumlah penonton lebih banyak, ternyata juga hanya bisa mencapai jumlah paling banyak 15 orang dari 200 kursi yang disediakan.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1822" title="SRIWEDARI9" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/SRIWEDARI9-300x155.jpg" alt="SRIWEDARI9" width="458" height="236" />Maka, jangan heran jika kemudian para pemainnya pentas asal-asalan. Mereka memang menari, memerankan tokoh Bima atau Adipati Karna yang gagah, juga melakukan dialog sesuai dengan teks. Tapi semuanya dilakukan dengan setengah hati. Wajar jika mereka frustasi. Betapa tidak, dengan jumlah penonton yang tak seberapa dan harga tiket yang hanya Rp 3.000, dari mana para pemain bisa  menutup kebutuhan hidup sehari-hari?</p>
<p>Sebuah ironi memang. Apalagi pada masanya, WO Sriwedari pernah menjadi magnet dan ikon Kota Solo. Para turis, misalnya, akan selalu merasa lengkap datang ke Solo jika mereka sudah menyaksikan pentas WO Sriwedari. Saat masih menjadi presiden, Bung Karno bahkan membuat agenda khusus dating ke Solo untuk menonton wayang.</p>
<p>“Melihat kondisi itu, Yayasan Mitra Bharata Jakarta menggelar pertunjukan khusus. Ini salah satu upaya untuk membangkitkan masa kejayaan  Wayang Orang Sriwedari,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Bharata, Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat. <img class="alignleft size-medium wp-image-1823" title="SRIWEDARI4" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/SRIWEDARI4-300x199.jpg" alt="SRIWEDARI4" width="406" height="269" />Sekedar menengok ke belakang, WO Sriwedari pertama kali dipentaskan untuk umum pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Sebelumnya pertunjukan wayang orang hanya bisa dinikmati kalangan keraton. Kebijakan Paku Buwono tersebut dikembangkan pengusaha Tionghoa Gan Kam, Lie Wat dan RM Sastratanaja dengan membangun semacam gedung opera untuk pagelaran WO Sriwedari. Mereka memungut bayaran atau karcis kepada penonton. Sejak itu, WO Sriwedari menjadi ikon Kota Solo. Pada tahun 1920-an hingga 40-an terdapat pemain bernama Wugu Hardjawibaksa yang memerankan Gatotkaca dan Sastra­dirun yang meme­rankan Petruk. Penampilan keduanya sangat ditunggu pe­nonton. Lalu, pada tahun 1940-an hingga 1970-an muncul nama Rusman Hardjawibaksa dan Darsi Pudyarini yang me­me­rankan Gatotkaca dan Pregiwa. Tembang palaran yang dilantunkan Rusman terhadap Darsi (Gatotkaca yang kasmaran pada Pregiwa) begitu indah dan menghanyutkan,termasuk menghanyutkan perasa­an Presiden Soekarno yang menjadi penonton tetap WO Sriwedari setiap tiga bulan sekali.  Pethilan (sempalan) adegan Gatotkaca yang tengah merayu Pregiwa  itu pula yang membuat Rusman dan Darsi melanglang buana sebagai duta budaya Indonesia. Namun, sekarang, belum ditemukan lagi pemain wayang orang yang penampilannya ditunggu penonton. Kelangkaan pemain berbakat seperti inilah yang barangkali ikut memberikan “kontribusi” atas sepinya penonton WO Sriwedari pada masa-masa sekarang. Kembali ke perayaan 100 tahun WO Sriwedari, pentas khusus dengan lakon “Sesaji Raja Suya” ini, menurut Wiwoho Basuki, tak hanya melibatkan semiman-seniman dari Srwiedari, namun pentas yang digelar Selasa (6/7) malam itu juga menggandeng beberapa kelompok kesenian lain, seperti Sanggar Tari Suryoningrat Solo, Pura Mangkunegaran Solo, Ngesti Pandowo Semarang, RRI Surakarta, WO Bharata Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Sekar Budaya Nusantara (SBN) Jakarta. <img class="alignleft size-medium wp-image-1825" title="SRIWEDARI6" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/SRIWEDARI6-300x199.jpg" alt="SRIWEDARI6" width="418" height="277" />Tak hanya itu, pentas spektakuler ini juga mengusung sejumlah tokoh penting sebagai bintang tamu, antara lain Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, Kapolda Jateng Irjen Pol Bambang Riatmodjo, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Nina  Tanjung dan para pengusaha Tionghoa. Maka, Gedung WO Sriwedari yang biasanya sepi, pada Selasa mala itu berubah meriah. Ratusan penonton berdatangan memenuhi kursi-kursi. Apalagi tontonan khusus itu tanpa tiket. Polisi dan petugas keamanan pun berjaga-jaga di sekitar gedung, karena banyaknya tokoh penting yang datang.</p>
<p>Lakon “Sesaji Raja Suya” dibuka dengan Tari Gambyong, sebuah tarian  khusus untuk menyambut para tamu. Lakon ini berkisah tentang keinginan Pandawa yang ingin meenggelar Sesaji Raja Suya sebagai bentuk syukur atas kebesaran dan kemakmuran Indraprasta. Namun, sesaji tersebut ternyata mensyaratkan adanya dukungan secara suka rela dari seratus negara atau raja terhadap Indraspata. Dukungan dalam jumlah yang sama juga harus didapatkan Indrapasta dari satwa air dan satwa hutan. Pada saat yang sama, Prabu Jasaranda di kerajaan Giribraja juga berencana mengadakan Sesaji Kalalodra yang mensyaratkan tumbal seratus raja. Jasaranda ketika itu sudah memenjarakan sembilan puluh tujuh raja, sehingga kurang tiga raja lagi.</p>
<p>Sang Prabu pun memerintahkan dua senopatinya, Hamsa dan Dimhaka,  untuk menaklukkan tiga kerajaan yang terisa, yaitu Amarta, Dwarawati, dan Manduro. Melihat hal itu, Kresna, Bima, dan Arjuna menyamar menjadi Brahmana yang kemudian berhasil menaklukan Prabu Jarasanda. Penaklukan tersebut sekaligus membebaskan para raja yang ditawan. Dengan kemenangan itu, Indrapasta pun mendapatkan dukungan seratus raja untuk menggelar  ”Sesaji Raja Suya”.</p>
<p>Pergelaran yang diusung untuk memperingati 100 tahun WO Sriwedari itu bertabur bintang, terutama pada babak-bak awal. Lihatlah kemunculan Dewi Kunti yang diperankan oleh Krinina Maharani atau Nina Tanjung (istri politisi Akbar Tanjung). Lihat pula para istri Pandawa yang diperankan oleh kalangan sosialita, seperti Alexandra Tan, Yessy Sutiyoso, Sita Satar, Astari dan mantan peragawati papan atas Eny Sukamto.  Meski belum pernah bermain wayang orang, namun penampilan para  perempuan cantik tersebut cukup elok. Penampilan Bang Yos, sapaan mantan gubernur DKI, pun tak mengecewakan. Bang Yos bahkan tampak menikmati perannya sebagai Bisma, sehingga penampilannya terlihat luwes. Dialog-dialognya lancar dan gerak tariannya pun terlihat lentur. Rupanya, sebelumnya Bang Yos sudah beberapa kali menjadi bintang tamu dalam pentas wayang orang. Penampilan yang memukau juga diperlihatkan oleh Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi. Bagi Begug, bermain wayang memang bukan sesuatu yang asing. Apalagi selain sebagai bupati, Begug selama ini juga dikenal sebagai dalang dan warok (penari reog). “Kami hanya ingin berbuiat sesuatu untuk Wayang Orang Sriwedari. Apalagi usianya  sudah 100 tahun. Beruntung banyak dukungan dari Pak Bas (KPA Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat) dari Yayasan Mitra Bharata, dan Ibu Nani  Soedarsono pendiri Sekar Budaya Nusantara,” ujar Nina Tanjung.  <img class="alignleft size-medium  wp-image-1826" title="SRIWEDARI2" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/SRIWEDARI2-300x200.jpg" alt="SRIWEDARI2" width="453" height="302" /></p>
<p>Sebagai orang asli Solo, Nina memang pantas untuk merasa prihatin dengan keadaan WO Sriwedari yang dirasa tidak mengalami perkembangan dari tahun ke  tahun. Ia berharap kawasan Sriwedari tetap diutamakan sebagai pusat seni dan budaya bagi warga Solo bahkan Indonesia. “Banyak dari kami yang sering bepergian ke luar negeri, tapi kekayaan seni dan budaya itu ternyata hanya ada di Indonesia. Bermain wayang orang bukan sekadar tren, tapi lebih pada upaya pelestarian,” tambah Nina. Lantas kenapa lakon Sesaji Raja Suya dipilih? “Lewat lakon ini, kita bisa belajar tentang bagaimana melalui penderitaan dan rintangan. Lakon ini juga mengajarkan kita cara bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan,” kata Wiwoho Basuki. Sementara lewat lakon ini, sutradara Teguh “Kenthus” Ampiranto ingin menyampaikan pesan bahwa  seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang amanah, memahami permasalahan bangsa  serta arif. “Pemimpin</p>
<p>harus bisa  mengambil langkah tepat untuk  rakyatnya,” ujar Teguh Namun terlepas dari lakon apa pun, upaya untuk membangkitkan kembali seni dan budaya tradisional seperti ini tampaknya harus selalu dilakukan  di tengah masyarakat yang dijejali budaya serba instan. “Unesco saja menganggap wayang sebagai human heritage (warisan kemanusiaan). Jagi rasanya aneh kalau kita yang punya wayang, justru  mengabaikannya,” kata Nani Soedarsono, mantan menteri sosial Kabinet Pembangunan IV (1982 -1988) yang kini penasihat di Sekar Budaya Nasional. <img class="alignright size-medium wp-image-1827" title="SRI" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/SRI-300x199.jpg" alt="SRI" width="450" height="297" /></p>
<p>Pada Selasa malam itu, kelompok Wayang Orang Sriwedari juga dinobatkan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai  kelompok wayang tertua di Indonesia. Selain itu, Muri juga memberikan penghargaan kepada Pemkot Surakarta sebagai satu-satunya Pemkot yang paling memperhatikan wayang orang di Indonesia.</p>
<p>Semoga setelah “Sesaji Raja Suya” masih aka ada lagi pentas-pentas yang lain di WO SARiwedari, sehingga kelompok wayang berusia satu abad itu akan tetap hidup.(<strong>Ganug Nugroho Adi</strong>)</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1830" title="WAYANG" src="http://kabarsoloraya.com/wp-content/uploads/2010/07/WAYANG2-300x200.jpg" alt="WAYANG" width="426" height="283" /></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Foto-foto:    Sri Nugroho dan Fefy Dwi Haryanto</em></p>
<img src="http://kabarsoloraya.com/?ak_action=api_record_view&id=1821&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kabarsoloraya.com/2010/07/30/sesaji-100-tahun-wayang-orang-sriwedari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

